cara memberikan link download pada blog
sekarang anda dapat membuat link untuk download pada blog anda. caranya mudah sekali. anda bisa meng-upload file-file anda di ziddu. jika belum punya account anda silakan klik disini. setelah anda punya account di ziddu maka otomatis anda bisa meng-upload file-file yang anda suka. setelah di upload, maka akan ada link. nah link itu bisa anda taruh di blog anda, seperti contoh ini. selain untuk fungsi di atas ziddu juga berfungsi mirip seperti “flashdisk” sebab anda dapat menyimpan file berapapun di situ. suatu saat nanti jika anda butuh file, tinggal di donload saja dari situ. selamat mencoba…!
Mempertanyakan Kinerja DPD
Genap lima tahun sudah DPD sebagai lembaga tinggi Negara eksis di negri ini. Selama lima tahun itu pula kinerja DPD perlu dipertanyakan. Sebagai sebuah lembaga tinggi negara, DPD belum menunjukkan “taring”nya kepada masyarakat. Kemana saja mereka selama ini?
Selama lima tahun ini, belum ada gebrakan politik dari parlemen di Indonesia, terutama DPD. Harapan agar parlemen yang sekarang mampu menjawab harapan dan aspirasi masyarakat, justru makin dikecewakan oleh kinerja parlemen yang hanya menjadi kepanjangan tangan dari partai politik. DPD sebagai wakil kewilayahan non-partai juga tidak kunjung memberikan kontribusi yang positif dan konkret kepada wilayah yang diwakilinya. Seharusnya DPD mampu memberikan kontribusi terhadap kepentingan masyarakat di daerah yang diwakilinya. Harapan yang tinggi perihal alternatif pilihan aspirasi di luar calon dari partai politik ternyata belum terjawab oleh kinerja DPD yang hingga saat ini masih terbelenggu dan terpasung secara politik oleh terbatasnya fungsi dan wewenang yang dimilikinya.
Menurut tujuan pembentukannya DPD memiliki tiga fungsi, yakni fungsi legislasi, fungsi pertimbangan, dan fungsi pengawasan. Dalam fungsinya sebagai badan legislasi DPD mempunyai tugas dan wewenang mengajukan RUU kepada DPR dan atau ikut serta membahas RUU menjadi UU bersama DPR. Sebagai fungsi pertimbangan DPD berwenang memberikan pertimbangan kepada DPR terhadap apa yang akan diputuskan oleh DPR. DPD mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan menyampaikan hasil pengawasannya kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti dan menerima hasil pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan BPK, dalam fungsinya sebagai badan pengawasan.
DPD sebagai badan legislasi belum mampu secara maksimal menyuarakan aspirasi rakyat. Terbukti dari tingkat rendahnya RUU usulan DPD yang bisa goal menjadi UU. Sejak 2004, DPD antara lain telah mengajukan RUU tentang Daerah Istimewa Yogyakarta, RUU Kehutanan, RUU Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, RUU Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, RUU Kepelabuhanan, dan RUU Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara. Namun sampai sekarang DPR belum membahas tuntas RUU tersebut.
Sebagai lembaga tinggi negara hendaknya DPD mampu bersuara di parlemen dengan ikut membahas RUU tersebut menjadi UU. Yang terjadi selama ini, DPD tidak mampu mengimbangi “kekuasaan” DPR di dalam memberikan keputusan akan pembuatan UU. Dalam hal ini kinerja DPD masih dibayang-bayangi oleh “kebesaran” kinerja DPR yang cenderung menguasai parlemen.
Maka dari itu perlu dilakukan upaya untuk memperjelas tugas dan fungsi DPD di parlemen. Perlu dibuat konstitusi atau peraturan yang sifatnya “menguntungkan” bagi DPD dalam posisinya di parlemen. Posisi DPD selama ini belum jelas si dalam parlemen. Bukan sebagai penyeimbang, juga bukan sebagai pelengkapa. Lemahnya pengaruh yang dimiliki DPD selama ini lah yang menyebabkan DPD belum memiliki “suara” di parlemen.
Di samping minimnya power yang dimiliki oleh DPD, hal lain yang mungkin menyebabkan lemahnya kinerja DPD di parlemen adalah sumber daya manusia. Jangan-jangan memang dari pemilu 2004 yang lalu, anggota DPD yang terpilih adalah bukan anggota DPD pilihan, dalam arti dia bukan benar-benar memiliki kualitas dan kapabilitas yang baik untuk menduduki kursi di DPD.
Kita tidak bisa menyalahkan pemilih yang telah memilih mereka, karena pemilih memang tidak kenal dengan para calon yang akan mereka pilih, mungkin karena para calon bukan figur masyarakat yang terkenal atau karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan KPU waktu itu.
Dalam kaitannya dengan hal ini maka perlu dibuat peraturan yang mensyaratkan agar para calon anggota DPD merupakan tokoh masyarakat atau figur masyarakat yang memiliki kualitas dan kapabilitas yang baik serta mampu mewakili aspirasi masyarakat daerahnya masing-masing. Bukan hal yang mudah untuk mencari orang seperti itu. jika memungkinkan, perlu dilakukan fit proper test bagi para calon anggota DPD tersebut. Hal ini agar para calon yang terpilih nanti merupakan calon yang benar-benar merupakan calon pilihan, bukan sekedar “anak bawang” yang nantinya akan membebani DPD itu sendiri.
Akhir-akhir ini muncul wacana tentang persyaratan calon anggota DPD dari anggota parpol. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan awal dari di bentuknya DPD. Ini akan menimbulkan ketimpangan pada DPD itu sendiri. DPD adalah badan yang sifatnya mewakili rakyat untuk kepentingan rakyat di daerahnya bukan kepentingan politik. DPD mewakili daerah sesuai kepentingan daerah. Sedangkan DPR mewakili parpol menurut kepentingan politik. Seharusnya kepentingan daerah lebih kuat dari pada kepentingan politik. Politik bisa berubah kapan saja tapi daerah tidak akan pernah berubah sampai akhir zaman.
Masalah lain yang terjadi dalam tubuh DPD adalah kurangnya sosialisasi atas peran mereka sebenarnya. Banyak dari anggota masyarakat sendiri yang belum tahu peran dan fungsi DPD, sehingga DPD tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya oleh masyarakat. Di samping itu juga kurang aktifnya DPD dalam melakukan upaya “jemput bola” terhadap kepentingan rakyat di daerahnya.
Hal yang mungkin dilakukan oleh DPD adalah melakukan sosialisasi tentang perang, fungsi dan tugas DPD kepada sekolah-sekolah, masyarakat agar terjadi pemahaman yang benar tentang DPD pada benak masarakat. Perlu juga sosialisasikan program-program kerja yang dilakukan agar terjadi pengawasan oleh masyarakat terhadap kinerja mereka. Mereka harus berani jujur kepada masyarakat yang telah memilih mereka.
Harapan-harapan itu tidak akan pernah terwujud jika mereka tidak secara sadar untuk melakukan evaluasi dan introspeksi dan memiliki kemauan yan besar untuk memperbaiki kekurangan mereka. Di samping itu perlu adanya dukungan masyarakat akan fungsi dan tugas DPD di parlemen.
Kotor Itu Baik
NEW YORK — Bermain tanah memang tidak higienis, apalagi memakannya. Tak ada ibu yang akan membiarkan anaknya memakan tanah. Mereka takut anaknya cacingan. Padahal bakteri dan virus, terutama cacing yang terdapat dalam tanah, ternyata bagus bagi kesehatan si bayi.
Dalam sebuah studi yang dinamai hygiene hypothesis, sejumlah ilmuwan menyimpulkan bahwa organisme seperti jutaan bakteri, virus, dan cacing yang memasuki tubuh bersama dengan tanah memacu perkembangan sistem imun yang sehat. Sejumlah studi menemukan bukti bahwa cacing dapat membantu memulihkan kembali sistem kekebalan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya kelainan autoimmune, alergi, dan asma.
Bila digabungkan dengan observasi epidemiologis, maka studi tersebut dapat menjelaskan bagaimana kelainan sistem kekebalan tubuh seperti multiple sclerosis, diabetes tipe 1, penyakit radang usus, asma, dan alergi meningkat pesat, baik di negara-negara maju maupun berkembang.
Hipotesis itu menjelaskan mengapa bayi memiliki perilaku instingtif untuk memasukkan segala sesuatu yang ditemukannya ke dalam mulut. Tanpa disadari, perilaku itu melatih sistem kekebalan tubuhnya. “Apa yang dilakukan seorang bocah ketika menaruh segala sesuatu ke dalam mulutnya adalah membiarkan respons kekebalan tubuhnya mengeksplorasi lingkungan sekitar,” tutur Mary Ruebush, pengajar mikrobiologi dan imunologi di Washington, Wyoming, Alaska, Montana, dan Idaho Rural Health Research Center and Medical School.
Penulis buku Why Dirt Is Good itu menuturkan bahwa perilaku yang sering dianggap jorok oleh orang tua tadi sangat berguna bagi kesehatan si anak kelak di kemudian hari. “Tidak hanya melatih daya tanggap kekebalan tubuhnya yang amat penting untuk perlindungan, tapi juga memainkan peran penting dalam “mengajar” sistem imunnya yang masih belia itu tentang apa yang sebaiknya tak perlu dihiraukan,” ujar Mary.
Joel V. Weinstock, direktur gastroenterologi dan hepatologi di Tufts Medical Center, Boston, menyatakan bahwa sistem imun pada saat lahir tak ubahnya sebuah komputer yang belum diprogram. “Dia memerlukan instruksi,” kata Weinstock.
Pakar kesehatan terkemuka itu mengatakan tindakan kesehatan publik seperti membersihkan makanan dan air yang terkontaminasi memang telah menyelamatkan nyawa jutaan anak-anak. “Tapi mereka juga mengeliminasi paparan banyak organisme yang kemungkinan bermanfaat bagi kita,” katanya. “Anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang sangat bersih. tidak terpapar pada organisme yang membantu mereka mengembangkan sirkuit regulator imunitas yang tepat.”
Hasil studi yang dilakukan oleh Weinstock bersama David Elliott, seorang gastroenterologis dan imunologis di University of Iowa, telah menunjukkan bahwa cacing usus–kini tak ditemui lagi di negara maju–tampaknya memainkan peran utama dalam mengatur sistem imun untuk memberi respons sepantasnya. “Infeksi bakteri dan virus kelihatannya mempengaruhi sistem imun dengan cara yang sama, tapi tidak sekuat itu,” kata Elliott.
Sebagian besar cacing tidak berbahaya, terutama bagi orang bergizi baik. “Hanya sedikit penyakit yang disebabkan cacing,” kata Weinstock. “Manusia telah beradaptasi dengan kehadiran sebagian besar cacing.”
Dalam studi yang dilakukan terhadap tikus, Weinstock dan Elliott menggunakan cacing untuk mencegah dan memulihkan penyakit autoimmune. Menurut Elliott, para ilmuwan di Argentina menemukan bukti bahwa pasien multiple sclerosis yang pernah terinfeksi cacing cambuk (Trichuris trichiura) menunjukkan kasus lebih ringan dan lebih jarang terkena serangan dalam periode 4,6 tahun.
Di University of Wisconsin, Madison, Dr John Fleming, seorang neurologis juga menguji apakah cacing cambuk babi (Trichuris Sus Ova dapat melunakkan efek multiple sclerosis penyakit susunan saraf pusat.
Di Gambia, penghapusan cacing di sejumlah desa menyebabkan peningkatan reaksi alergi kulit pada anak-anak. Cacing cambuk babi, yang hanya sebentar berada dalam saluran usus manusia, ternyata mempunyai efek baik dalam mengobati penyakit radang usus, penyakit Crohn, dan ulcerative colitis atau radang usus besar,” kata Elliott.
Kenyataan bahwa cacing dapat membantu meningkatkan sistem imun memang agak sulit diterima akal sehat. Tapi hal itu dapat dijelaskan dalam hipotesis higien. Saat ini, kata Elliott, regulasi imun jauh lebih rumit daripada yang diduga para ilmuwan ketika hipotesis higien pertama kali diperkenalkan oleh seorang epidemiologis Inggris, David P. Strachan, pada 1989. Strachan mencatat adanya asosiasi antara ukuran besar keluarga dan menurunnya tingkat asma dan alergi.
Para ahli imunologi kini mengetahui empat poin sistem respons yang membantu sel T, jenis sel darah yang melindungi tubuh dari infeksi, yaitu Th 1, Th 2, Th 17, dan sel T regulator. Th 1 akan menghalangi Th 2 dan Th 17, sedangkan Th 2 menghalangi Th 1 dan Th 17. Sel T regulator akan menghalangi ketiga Th lainnya.
“Banyak penyakit radang, seperti multiple sclerosis, Crohn, ulcerative colitis dan asma, terjadi karena aktivitas Th 17,” kata Elliott. “Jika Anda menginfeksi tikus dengan cacing, Th 17 akan merosot tajam, dan aktivitas sel T regulator meningkat.”
Meski studinya menunjukkan bahwa cacing baik bagi kesehatan, Elliott tak lantas menganjurkan orang untuk kembali ke lingkungan yang penuh kuman di masa 1850-an. “Jika kami mengerti bagaimana organisme di lingkungan sekitar melindungi kita, barangkali kami bisa membuat vaksin atau meniru efeknya dengan stimulus yang tak berbahaya,” ujarnyaTJANDRA DEWI | NYTIMES
Cuci Tangan Seperlunya Saja
Secara instingtif, bayi berusaha memasukkan semua benda ke dalam mulutnya ketika mengeksplorasi dunia di sekelilingnya. Perilaku instingtif semacam itu pasti memiliki manfaat evolusioner. Jika tidak, maka perilaku itu tidak akan bertahan sampai ribuan tahun. Perilaku tersebut juga meningkatkan peluang yang membantu manusia bertahan hidup sebagai suatu spesies.
Meski menulis buku berjudul Mengapa Tanah Itu Baik, Mary Ruebush tidak menyarankan manusia meninggalkan lingkungan modern yang bersih dan kembali ke perilaku kotor serta jorok di masa lalu. Dia menunjukkan bukti bahwa bakteri ada di mana-mana, bahkan di dalam tubuh manusia. Sebagian besar mikroorganisme itu tidak menimbulkan masalah. Banyak di antaranya justru amat penting bagi kesehatan, misalnya yang hidup normal dalam saluran pencernaan dan menghasilkan nutrisi yang penting bagi kehidupan.
“Biasanya tubuh manusia menampung sekitar 90 triliun mikroba,” kata Ruebush. “Mikroba yang begitu banyak dan beragam jenisnya itulah yang membuat Anda tetap sehat.”
Ruebush menyesali tren yang terobsesi pada produk antibakteri yang membawa kesan keliru tentang keamanan dan pada akhirnya mendorong perkembangan resistensi terhadap antibiotik, bakteri penyebab penyakit. Sabun biasa dan air saja sudah cukup untuk membersihkan.
“Saya merekomendasikan cuci tangan setelah menggunakan kamar mandi, sebelum makan, setelah mengganti popok, sebelum dan sesudah memasak, atau setiap saat tangan terlihat kotor,” kata Ruebush dalam bukunya. Jika air mengalir tidak tersedia, dia menyarankan penggunaan hand sanitizer berbasis alkohol.
Anjuran Dr Weinstock bahkan jauh lebih “seram”. “Anak-anak seharusnya diperbolehkan berjalan tanpa alas kaki di tanah, main tanah, dan tak perlu mencuci tangan ketika makan,” katanya. Menurut Weinstock, anak-anak yang besar di peternakan yang kerap terpapar cacing dan organisme lain dari binatang peliharaannya jarang mengalami alergi dan penyakit autoimmune. “Akan amat membantu jika membiarkan anak memiliki dua anjing dan seekor kucing, memapar mereka terhadap cacing usus yang akan mendorong sistem imun nan sehat,” ujarnya. TJANDRA | NYTIMES | BBC
Proses Terjadinya Alergi
Lebih dari dua juta anak di Amerika menderita alergi. Umumnya alergi adalah penyebab terjadinya penyumbatan saluran pernapasan.
- Apa itu alergi:
Respons sistem kekebalan tubuh secara berlebihan terhadap substansi yang biasanya tidak berbahaya, semisal debu, jamur, serbuk sari, bulu binatang, atau makanan tertentu.
- Allergen (substansi pemicu reaksi alergi)
- Antibodi
- Histamin (mediator)
1. Sel darah putih memproduksi antibodi terhadap allergen. Antibodi ini akan menempel pada mast cell, sel dalam jaringan yang memiliki peran sebagai pelindung, seperti penyembuhan luka dan pertahanan terhadap patogen atau bibit penyakit.
- Sel darah putih
2. Antibodi akan mengikat allergen di permukaan sel mast, melepas bahan kimia perantara seperti histamin.
Mediator mempengaruhi sejumlah organ, misalnya menyebabkan hidung berair, hidung tersumbat, bersin, mata atau telinga gatal.