dan Aku pun Mengerti

Masalah ini bukan untuk dihindari

Final Results Super Series Final ’08

Menjadi tuan rumah pesta Super Series terakbar penutup tahun 2008 ternyata menjadi berkah tersendiri bagi negeri jiran, Malaysia. Tanpa skenario yang diduga sebelumnya, tiga gelar berlabel ‘master’ akhirnya berhasil dipersembahkan oleh para atletnya dari sektor tunggal putra, ganda putra dan ganda putri.

Gelar ini mungkin terasa cukup hambar dan kurang prestise akan diraih tanda kehadiran sang negara adidaya China. Namun setidaknya Malaysia berhasil membuktikan dominasinya sebagai yang terkuat diantara 4 negara bulutangkis lainnya.

Ganda Campuran, Sindrom Angka Kritis

Meskipun pencapaian prestasi para atlet kali ini tidak terbukukan oleh dalam daftar poin dan peringkat mereka di tingkat dunia namun jumlah hadiah uang yang ditawarkan pada turnamen ini diharapkan mampu menggaraihkan para atlet untuk berprestasi maksimal karena tidak semua atlet badminton dunia yang pantas untuk mengikutinya. Semangat ini sayangnya tidak mampu menjalar ke permainan para atlet Indonesia. Bertumbangannya para lascar merah putih sejak babak semifinal dengan relatif mudah ternyata terus berlanjut hingga pertarungan di partai pamungkas.

Dengan diiringi riuhan supoter yang memadati Likas Indoor Stadium tadi sorea (21/12), babak final dibuka oleh perseteruan antara unggulan teratas, Nova/Lily dan duet Denmark, Thomas/Kamilla (5). Sejak awal set pertama kedua pasangan sudah terlibat kejar mengejar angka dan saling memimpin yang berlangsung hingga akhir set. Tidak seperti biasanya, aroma kekalahan para wakil Indonesia sudah mulai tercium saat NoLyn yang biasa tampil agresif dengan ‘defense’ yang cukup baik kali ini lebih memilih tempo pertandingan yang lebih lambat dan tidak mampu tampil lepas.

Harus diakui bahwa penampilan ganda Denmark khususnya Kamilla Ritter Juhl dalam melakukan serangan dan ‘blocking’ di depan net cukup sempurna sebaliknya Liliyana Natsir yang biasanya tampil lincah untuk menutup bagian depan lapangan kali ini justru lebih banyak melakukan kesalahan sendiri. Selisih 1 angka yang dipimpin oleh Thomas/Kamilla berhasil diimbangi oleh NoLyn hingga kedudukan 4 sama. Tiga kesalahan beruntun dari Lily membuat Denmark kembali unggul 7-4. Penempatan bola-bola Nova yang cukup akurat di dalam garis baseline bagian belakang ternyata cukup ampuh untuk menambah poin bagi NoLyn, 5-8, 6-9 dan akhirnya menyamakan angka di titik 9 setelah pengembalian bola Kamilla dan Thomas terlalu melebar dan penempatan bola Lily di depan net berhasil mematahkan perlawanan ganda Denmark.

Adu reli bola-bola drive di depan net yang cukup intensif antara kedua pasangan akhirnya berhasil dimenangkan oleh NoLyn ketika Thomas gagal mengembalikan bola dengan sempurna. Namun keunggulan ini tidak berlangsung lama, smash Nova yang gagal melewati net dan serangan Thomas yang tidak dapat dikembalikan serta net silang Lily yang gagal melewati net mengubah kedudukan 12-10 untuk kejayaan Denmark. Dari titik ini, kedua pasangan kembali saling memimpin dan mengejar dengan selisih 1 angka kemenangan hingga kedudukan kritis 19 sama.

Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh tandem Denmark ternyata mampu ditebus keduanya dengan terus menekan lewat bola-bola drive dan serobotan serta smash Kamilla yang tidak mampu dikembaliakn dengan sempurna. Sebaliknya Lily yang banyak melakukan sendiri berhasil ditutup oleh permainan memukau Nova dalam melakukan ‘blocking’ di depan net pukulan-pukulan kejutan yang sulit ditebak arah tujuannya. Mencoba untuk menamatkan set ini lebih dulu, NoLyn sempat mengadu drive cukup lama di depan net. Namun ‘defense’ yang sempurna dari pasangan Denmark justru menajdi boomerang tersendiri untuk NoLyn.

Berada di angka 19, Thomas segera memenfatkan kelemahan pasangan Indonesia saat harus mengembalikan bola-bola drive di depan net. Penempatan bola oleh Thomas yang sulit dijangkau oleh NoLyn dan pengembalian bola Lily yang terlalu melebar menutup set ini untuk Thomas/Kamilla 21-19. Memasuki set kedua, Indonesia mulai menguasai jalannya pertandingan ketika pasangan Denmark melakukan banyak kesalahan sendiri. Penempatan bola-bola ova di depan net dan dua kegagalan Kamilla dalam mengembalikan bola di depan net serta pengembalian Thomas yang melebar membuat NoLyn unggul 4-2 di awal set.

Denmark berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 4-5 setelah dua bola tanggung dari Nova dan Lily berhasil di smash oleh Kamilla dan Thomas. Penempatan bola Nova di bagian belakang pasangan Denmark mempu menambah perolehan poin namun pengembalian bola Lily yang tanggung dan tiga kesalahan bruntun lainnya membuat Thomas/Kamilla berbalik unggul 8-6. Penempatan bola-bola Nova di depan net serta gagalnya Thomas mengembalikan bola melewati net setelah terlibat adu drive antara kedua pasangan kembali membuat Indonesia menutup jeda interval set kedua 11-10.

Banyaknya pengembalian bola-bola Thomas yang gagal melewati net kembali membuat NoLyn unggul 13-11 namun kesalahan beruntun Nova dan Lily di depan net membuat kedudukan imbang di angka 13. Pengembalian yang tak sempurna dari Thomas dan Kamilla di depan net serta penempatan bola yang akurat dari Nova selalu mampu membuat NoLyn ‘leading’ 15-13 dan 17-15. Di sisi lainnya, backhand Lily yang selalu gagal melewati net menjadi kunci perolehan poin untuk pasangan Denamrk. Dua kesalahan sendiri dari Nova yang membuat bola keluar dan serobotan Lily yang membentur net mengubah kedudukan setara di angka 17.

Adu reli bola-bola drive yang diakhiri dengan penempatan bola oleh Lily di tempat kosong, serobotan Lily yang gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Kamilla dan pengembalian Kamilla yang terlalu melebar membuahkan 3 poin beruntun untuk ‘match point’ Indonesia, 20-17. Denmark sempat menambah 1 angka dari pengembalian Nova yang melebar ke belakang sebelum akhirnya adu drive yang diakhiri oleh kesalahan Thomas di depan net menutup set ini untuk NoLyn 21-18.

Di set ketiga permainan atraktif Nova kembali menjadi kunci kemenangan pasangan Indonesia selain bola-bola out dan net eror dari pasangan Denmark. Sempat tertinggal 2-5 di awal set karena kesalahan beruntun dari Nova saat mengembalikan bola dan melakukan smash, pengembalian Thomas yang melebar dan bola tanggung Kamilla yang diselesaikan dengan baik oleh Nova memperkecil selisih jarak mereka 4-5. 3 angka beruntun Denmark dari pengembalian melebar Nova, penempatan bola yang akurat oleh Kamilla di depan net serta pengembalian backhand Lily yang terlalu melebar membuat selisih angka 4-8.

Serobotan Nova dan penempatan bola di bagian belakang tak terjangkau oleh Thomas/Kamilla meperkecil selisih angka 8-9. Smash keras Nova yang gagal dikembalikan oleh Denmark, servis eror yang dilakukan oleh Kamiila dan pengembalian Kamilla yang gagal melewati net menutup jeda interval 11-10 untuk Indonesia. Indonesia kembali memimpin 12-11 dan 13-12 dari kesalahan Thomas di depan net, sebaliknya pengembalian Nova dan Lily yang kembali gagal akhirnya menyamakan kedudukan di angka 13. Keadaaan yang sama kembali terjadi di angka 14 dan 15 saat kedua pasangan sering melakukan kesalahan sendiri.

Thomas/Kamilla mendapakan dua angka berturut-turut dari kurang cermatnya pengamatan LiLy di bagian belakang dan backhand Lily yang terlalu melebar namun serobotan Kamilla yang gagal melewati net serta adu reli yang diakhiri oleh smash keras Nova mengubah kedudukan menjadi imbang 17-17. Servis Nova yang dikira out ternyata masuk, pengembalian bola Thomas yang terlalu melebar serta adu drive antara kedua pasangan yang diakhiri dengan net eror Kamilla mengantarkan duo peringkat satu dunia pada ‘match point’ 20-17.

Dan di titik inilah sindrom itu kembali menjangkiti kubu Indonesia setelah di babak sebelumnya KiNdra juga mengalami hal yang sama. Tampil canggung dan tidak percaya diri, bola tanggung dari NoLyn berhasil diserobot dengan baik oleh Kamilla, pengembalian backhand Lily yang melebar di belkang garis serta pengembalian Nova yang gagal melwati net membuayarkan impian yang sudah ada di depan mata saat kedudukan menjadi imbang 20-20. Dan akhirnya sindrom itu berubah menjadi mimpi buruk saat dua smash yang dilakukan oleh Nova dan Lily secara bergantian ternyata justru gagal melewati net, 20-22.

Dengan hasil ini, Thomas/Kamilla berhak untuk mengantongi hadiah uang sebesar US$42,000 sedangkan NoLyn harus puas dengan US$20,000 sekaligus memperpanjang rekor kekalahan mereka atas Thomas/Kamilla setelah pada pertemuan terakhir di depan public sendiri, NoLyn juga gagal memenangkan duel atas peringkat satu Eropa tersebut.

Tunggal Putri, Zhou Mi Tundukkan Wang Chen

Kalimat bijak ‘mengalah untuk menang’ atau ‘kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda’ layaknya sangat tepat disandangkan kepada peringkat 1 dunia asal Hongkong, Zhou Mi. Setelah hanya menempati runner up grup A dan menelan kekalahan atas rekan senegaranya, Wang Chen (3), Zhou akhirnya berhasil membalas kekalahan itu di laga pamungkas yang paling menentukan sekaligus membukukan diri sebagai juara ‘master’ Super Series.

Permainan khas reli tunggal putri berupa lob-lob dan netting yang diselesaikan dengan drop shot dan smash menghiasi partai antara sesama mantan atlet China ini. Sempat tertinggal cukup jauh oleh Wang Chen di set pertama, 1-6 karena drop shot tajam dan pengembalian bola di daerah baseline ternyata justru merupakan titik awal kejayaan Zhou Mi. Drop shot silang dan penempatan bola di depan net yang tidak mampu dijangkau oleh Wang memperkecil jarak Zhou Mi 5-7 sebelum akhirnya menyamakan kedudukan di angka 7 karena smash Wang yang terlalu melebar.

Dua kesalahan Zhou Mi di depan net serta penempatan boal drop shot yang akurat dari Wang Chen di depan net mengubah kedudukan menjadi 11-8 untuk Wang Chen. Pengembalian Wang yang terlalu melebar dan dua kesalahannya di depan net saat menyerobot bola menjadikan kedudukan imbang 11-11. Dan di titik inilah Zhou mendapatkan meomentum kemanangan pertamanya, setelah berhasil memaku Zhou di angka 11. Dua bola pengembalian yang gagal dari Wang Chen, penempatan bola di daerah belakang setelah keduanya terlibat adu netting, serta smash keras yang gagal dikembalikan oleh Wang mengubah kedudukan menjadi 16-11.

Pengembalian yang terlalu melebar dari Zhou sempat menambah angka untuk Wang namun serobotan bola Zhou di depan net dan pengembalian Wang yang tidak sempurna membuat Zhou Mi mencapai angka 19-14 terlebih dahulu. Dua kesalahan Wang Chen berupa pengembalian yang gagal melewati net dan terlalu melebar akhirnya menutup set ini 21-14 untuk Zhou Mi.

Di set kedua, Zhou Mi kembali mendominasi pertandingan hingga paruh pertama set ini. Setelah adu reli antara keduanya di titik 4 sama, Zhou berhasil memaku Wang di angka 5 dengan smash dan kesalahan sendiri dari pengembalian bola yang terlalu melebar yang dilakukan oleh Wang Chen, 8-5. Ketrampilan Zhou dalam mengolah bola di depan net berupa netting dan net silang mengubah kedudukan menjadi 10-5. Momentum kabangkitan Wang Chen akhirnya didapatkan di angka ini dengan menyamakn kedudukan di angka 10 dan akhirnya berbalik unggul 11-10 saat smash dan drop shotnya gagal dikembalikan oleh Zhou.

Penempatan bola di bagian belakang oleh masing-masing pemain dan ‘lucky ball’ dari netting yang dilakukan Zhou Mi menyamkan kedudukan keduany di angka 12. Kolaborasi net silang dan drop shot kembali tersaji sebelum akhirnya masing-masing melakukan kesalahan sendiri, 13-13. Wang Chen kembali mampu unggul dengan meraih 4 poin beruntun dari kesalahan Zhou Mi, 17-13. Sayangnya momentum ini gagal dimanfaatkan dengan baik oleh Wang dan berbalik menjadi keunggulan Zhou Mi 19-18 saat smash dan netting Zhou gagal dikembalikan dengan sempurna dan pengembalian bola-bola Wang yang terlalu melebar atau gagal melewati net.

Drop shot Zhou di bagian belakang lapangan Wang dan bola tanggung dari Wang yang diselesaikan dengan smash beruntun dari Zhou akhirnya mengantarkan tunggal terbaik Hongkong tersebut pada mahkota juara 21-18 sekaligus membalas kekalahan atas Wang Chen di babak penyisihan grup. ‘Prize money’ sebesar US$40,000 berhak dikantongi oleh Zhou Mi sedangkan sebagai runner up Wang akan menerima US$20,000.

Tunggal Putra, Momentum Emas Sang Peringkat 1 Dunia

Gegap gempita suporeter sang pemilik kandang baru benar-benar mulai terasa setelah memasuki partai ketiga. Favori juara tuan rumah, Lee Choong Wei (1) ditantang oleh jagoan terbaik Eropa, Peter Gade (3). Choong Wei yang dalam 5 kali pertemuan menghadai Gade selalu menang kali ini kembali menunjukkan keperkasaanya sebagai jago kandang sejak awal set pertama. Dua belas angka beruntun yang diraih Choong Wei mengingatkan kita saat final Olimpiade Beijing 2008 dimana Lee kala itu tertinggal 1-7 oleh Lin Dan.

Berkebalikan dengan peristiwa akhir Agustus tersebut, perpaduan antara smash tajam, netting ke belakang dan drop shot di depan net menjadikan poin demi poin meluncur cukup deras untuk Choong Wei. Meski mencoba untuk melawan dengan tampil taktis dan agresif, Gade justru banyak melakukan kesalahan sendiri dan akhirnya membuahkan poin untuk Lee. Kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Choong Wei untuk pertama kalinya saat mengembalikan bola terlalu melebar merupakan angka pertama yang berhasil disumbang Lee untuk Gade, 1-12.

Bola tanggung dari Gade dan pengembalian yang terlalu melebar menambah koleksi dua poin untuk Lee. ‘Lucky ball’ yang bergulir di depan net dan akhirnya jatuh ke lapangan Choong Wei merupakan angka kedua untuk Gade dan sebalum akhirnya Gade mampu melakukan serangan smash yang akhirnya membuahkan poin ketiga untuknya, 3-14. Lee kembali mengunci Gade di titik ini. 6 angka beruntun yang 4 diantaranya diperoleh dari kegagalan smash Gade di depan net dan pengembalian yang lebar serta smash silang yang dilancarkan oleh Lee mengantarkan peraih juara Indonesia SS 2007 tersebut pada ‘match point’ 20-3.

Lima angka beruntun yang berhasil diraih Gade dari pengembalian bola Lee yang gagal melewati net, ‘lucky ball’ dari smash Gade yang sempat membentur bibir net, dan tiga drop shot tajam Gade yang gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Choong Wei sempat menunda kemenangan Lee di set pertama, 20-8 sebelum jumping smash menyilang Choong Wei akhirnya menutup set ini 21-8.

Di set kedua, Gade mulai dapat mengimbangi permainan Lee dan meraih poin lebih banyak. Bahkan di awal set Gade sempat memimpin 2-0 dan 3-2. Namun kualitas sebagai peringkat terbaik dunia ternyata mampu membalikkan keadaan untuk Lee menjadi 7-3 setelah beberapa kesalahan Gade dan smash tajam dari Choong Wei. Meluncur dengan 9-4 dan 10-5, Lee akhirnya menutup paruh pertama set ini 11-6 setelah smash Gade terlalu melebar ke belakang. Tertinggal 7-13, Gade sempat mendapatkan momentum kebangkitannya dengan merebut 7 poin beruntun dan berbalik memimpin 14-13 saat smash dan serobotannya gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Lee.

Sayangnya momentum ini gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Gade. Dua kesalahan sendiri yang dilakukannya sehingga menyebabkan bola out dan gagal melewati net membuat Choong Wei kembali unggul 16-14. Smash Gade dari servis tanggung yang dilakukan oleh Lee sempat menambah 1 poin untuk Gade sebelum Choong Wei meraih 4 poin beriring dari smash dan 3 lainnya dikumpulkan dari penempatan bola yang akurat di bagian belakang lapangan setelah adu drive dan netting yang sekaligus mengantarkannya pada ‘match point’ 20-15. Pengembalian yang melebar dari Lee sempat membuahkan 1 angka untuk Gade sebelum akhirnya Lee memastikan kejayaannya 21-16.

Ganda Putra, Rontoknya Dominasi ‘The Golden Boy’

Gelar prestisius kedua sang pemilik rumah ternyata mampu ditoreh oleh anak asuhan Rexy yang karirnya mulai tenggelam pada tahun 2008. Gelar ini terasa cukup berharga bagi duo Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (6) karena keduanya berhasil mematahkan perlawanan ganda fenomenal asal Korea, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (3). Kesuksesan ini merupakan yang ketiga kalinya untuk Koo/Tan setelah di dua pertandingan sebelumnya mereka juga mencatat kemenangan atas lawan yang lebih tangguh, Markis/Hendra dan Zakry/Fairuz.

The Golden Boy, Lee Yong Dae, yang diharapkan mampu berbicara banyak pada babak final ternyata kali ini justru menjadi penyebab kekalahan satu-satunya utusan negeri ginseng di babak final karena banyaknya ‘unforced error’ yang dilakukan oleh pemain muda bertalenta tersebut. Pada awal set pertama, Jung/Lee yang menampilkan drive-drive cepat berhasil mengobrak-abrik pertahanan pasangan Malaysia dan memetik poin demi poin, 3-0, 5-2 dan 6-3.

Adu drive yang diakhiri dengan kesalahan Jung Jae Sung di depan net menyebabkan angka bergulir untuk Malaysia, 5-6. Penempatan bola di bagian belakang oleh Yong Dae ternyata harus diikuti dengan ‘service fault’ yang dilakukan oleh Yong Dae dan net eror oleh Jae Sung. Unggul 10-8 dari kecerobohan Koo Kien Keat, smash Yong Dae yang terlalu melabar dan pengembalian out dari Jae Sung kembali menempatkan kedua pasangan pada angka imbang 10-10. Backhand Yong Dae yang gagal dikembalikan oleh Malaysia akhirnya menutup paruh pertama 11-10.

Bola-bola dari Koo/Tan di bagian belakang Jung/Lee menjadi kunci perolehan poin untuk Malaysia sedangakan tekanan bola-bola drive cepat dari pasangan Korea yang menyebabkan kesalahan sendiri dari Koo/Tan juga menjadi sumber pengumpulan poin untuk pasangan peringka 3 dunia tersebut. Kejar mengejar di angka 12, 13 dan 14 pun tak terlekakan sebelum Koo/Tan mengambil alih pimpinan angka 15-14 karena smash Yong Dae yang gagal melewati net.

Smash Koo Kien Keat yang juga tak sukses kembali menyetarakan angka di titik 15. Pengembalian bola melebar dari Yong Dae dan net eror dari penegmbalian Tan Boon Heong menyamakan kedudukan kedua pasangan di angka 16. Di poin inilah Koo/Tan mengunci ganda Korea untuk meraih 3 poin beruntun dari ‘jumping smash’ yang dilakukan Tan Boon Heong, serobotan bola di depan net oleh Koo Kein Keat dan kesalahan penempatan bola di bagian belakang lapangan oleh Yong Dae menjadikan ‘match point’ 20-16 untuk Malaysia.

Serobotan di depan net oleh Yong Dae dan net eror yang dilakukan oleh Koo saat mengembalikan bola sempat membuat kemenangan Koo/Tan tertunda namun smash Yong Dae yang untuk kesekian kalinya gagal melewati net menamatkan set ini 21-18 untuk ganda sang tuan rumah.

Perseteruan di set kedua ternyata tidak seketat set pertama. Selisih poin antara kedua pasangan terlihat cukup jauh sejak awal set. Di paruh pertama, dominasi dipegang oleh duet Jung/Lee namun Koo/Tan berhasl membalikkan keadaan dan akhirnya memetik kemenangan di set ini. Bola-bola cepat Lee Yong Dae dan smash beruntun dari Jung/Lee kembali ampuh mematahkan perlawanan Koo/Tan yang akhirya banyak melakukan kesalahan sendiri. Unggul 8-3 sayangnya tidak mampu dipertahankan oleh duo Korea ketika smash keras Tan Boon Heong dan empat poin kecerobohan Yong Dae di depan net menyamakan kedudukan kedua pasangan di angka 8.

Pengembalian bola yang terlalu melebar ke bagian kiri lapangan Jung/Lee membuat Korea unggul 9-8 namun di titik ini Koo/Tan berhasil mengunci Jung/Lee untuk meraih 7 poin beruntun, 9-15, dari kesalahan Jung/Lee di depan net dan bola out. Diantara 7 poin ‘unforced error’ tersebut, 5 diantaranya disumbang oleh Lee Yong Dae. Korea kembali menambah lima poin dari permainan agresif ‘smash’ mereka sedangkan Malaysia menambah 1 angka dari penempatan bola Tan Boon Heong di bagian belakang lapangan, 14-16.

Kembali di titik ini permainan agresif Jung/Lee tidak berkembang dan berhasil diredam oleh Koo/Tan saat keduanya barhasil mengumpulkan 4 poin beriring dan menciptakan ‘match point’ 20-14 dari pengembalian Yong Dae gagal melewati net, penempatan bola Yong Dae di bagian belakang yang ternyata out dan dorongan bola Koo Kien Keat yang tidak mampu dikembalikan oleh Jung/Lee. Kesalahan untuk kesekian kalinya dari Yong Dae dari pengembalian bola yang membentur net akhirnya menutup set ini 21-14 untuk Malaysia.

Ganda Putri, Wong/Chin Sumbang Gelar Ke-3

Setelah menelan pil pahit atas kekalahan di laga perempatfinal Indonesia SS bulan Juni yang lalu atas Vita/Liliyana (2), kali ini giliran unggulan asal tuan rumah Wong Pei Tty/Chin Eei Hui (1) yang membalas kekalahan tersebut di hadapan publik sendiri. Dengan dukungan dari sebagian besar supporter Malaysia, Wong/Chin menundukkan ViLy di laga pamungkas setelah pasangan terbaik Indonesia tersebut gagal menafaatkan keunggulan di set kedua (sindrom angka kritis, red).

Aura kekalahan Indonesia mulai terbaca saat berkali-kali ViLy gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan permainan ‘defense’ seperti yang mereka sajikan di final Uber Cup dan turnamen Indonesia SS 2008 tidak berfungsi dengan baik. Di set pertama kedua pasangan sempat terlibat kejar mengejar angka hingga kedudukan 5-5. Kesalahan dari ViLy di depan net ternyata juga diikuti oleh Chin Eei Hui yang berkali-kali gagal melewatkan bola di depan net. Netting Lily yang gagal melampaui net, smash Vita yang membentur net dan ‘lucky ball’ dari Wang/Chin membuat Malaysia unggul lebih dulu 8-5.

Pengembalian bola ‘backhand’ Lily yang sudah tidak berfungsi sejak partai ganda campuran kali ini kembali menjadi biang kekalahan pasangan Indonesia. Tertinggal 6-10, penempatan bola Vita yang cemerlang di depan net dan ner eror yang dilakukan Wong Pei Tty memperkecil selisih poin menjadi 8-10. Smash Lily yang membentur net akhirnya menutup jeda interval 11-8 untuk Malaysia. Penempatan bola Vita dan Lily di bagian belakang dan kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Chin Eei Hui sempat menambah angka untuk Indonesia namun bola out dari pengembalian Vita dan smash Vita yang membentur net mengubah kedudukan 12-16 untuk keunggulan Malaysia.

Pengembalian bola Wong yang melebar di bagian belakang sempat menambah 1 angka untuk Indonesia namun kesalahan beruntun dari Vita mengantarkan duet Wong/Chin pada angka kritis 19-13. Wong Pei Tty kembali melakukan kesalahan di bagian belakang lapangan namun segera ditutup dengan baik oleh Chin Eei Hui dengan melakukan ‘placing’ tak terduga di depan net, 20-14. Vita sempat menekan Wong/Chin dengan kekuatan smash nya dan akhirnya membuah kan poin terakhir untuk Indonesia namun untuk keduakalinya penempatan bola Chin yang akurat di depan net mengakhiri set ini 21-15.

Reli-reli pajang kombinasi smash dan drop shot serta penempatan bola yang akurat dari depan net masih menghiasi set kedua pertarungan antara dua ganda terbaik Asia Tenggara ini. Tertinggal 2-5 dan 3-6 di awal set karena penempatan bola yang akurat dari Wong/Chin di daerah baseline, ViLy mampu menyakan kedudukan di angka 6 buah dari smash Vita dan pengembalian Chin yang terlalu melebar. Smash Chin dan Lily secara bergantian membuahkan poin bagi kedua pasangan, 7-7. Gagalnya pengembalian Lily melewati net, bola Vita yang terlalu melebar dan smash Wong Pei Tty kembali membuat Malaysia unggul 10-7.

Dua kesalahan beruntun dari Chin dan Wong diikuti oleh Lily yang untuk kesekian kalinya gagal menjalankan pukulan ‘backhand’nya dengan sempurna menutup jeda interval set kedua 11-9. Pengembalian Wong yang terlalu melebar dan netting tipis Vita mengantarkan Indonesia pada nilai setara, 11-11. Servis Vita yang dianggap out dan smash Wong yang mendarat mulus di lapangan ViLy menjadikan jeda poin 13-11 untuk Malaysia. Di titik ini, reli panjang selama beberapa menit sempat tersaji antara kedua pasangan sebelum akhirnya diakhiri dengan kesalahan sendiri dari Chin Eei Hui yang mengembalikan bola terlalu melebar.

Dua kesalahan beruntun Wong Pei Tty membuat ViLy unggul 14-13 namun smash keras dari Wong kembali menyamakan kedudukan di angka 14. Di titik inilah ganda Indonesia mampu menciptakan momentum kemanangan saat berhasil meraih 5 poin beruntun dari tekenan demi tekanan yang mulai dilancarkan dan penempatan bola-bola Vita di bagian belakang lapangan. 4 dari 5 angka diperoleh dari pengembalian bola Wong dan Chin dan gagal melewati net, 19-15. Namun para pecinta bulutangkis Indonesia kembali harus menerima kekecewaan karena dua angka yang diharapkan tak kunjung diraih.

Justru sebaliknya, kesalahan demi kesalahan dari pengembalian bola Vita yang out ke belakang, smash Vita yang membentur net, pengembalian Lily yang gagal melewati net dan smash Liliy yang tidak melampaui net membuat skor kembali imbang 19-19. Smash Vita kembali menciptkan momentum kedua untuk Indonesia, 20-19 namun pengembalian Lily yang melebar mengubah kedudukan menjadi 20-20. Dan akhirnya harapan itu pupus sudah saat dua bola penempatan Chin Eei Hui di depan net tidak mampu dikembalikan oleh ViLy, 20-22.

Dengan hasil ini Wong/Chin berhasil menambah koleksi gelar ke-3 untuk Malaysia sekaligus mengokohkan predikat mereka sebagai ganda putri terbaik di kawasan Asia Tenggara. Rekor pertemuan keduanya sepanjang tahun ini di turnamen Super Series pun berubah dari 2-1 menjadi 3-1 untuk Wong Pei Tty/Chin Eei Hui.

22 Desember 2008 Ditulis oleh muhamadabdulrosyid | Tulisanku | | Belum Ada Tanggapan

Final Masters Super Series 2008 Gagal Total Di Laga Final

Dengan persiapan yang sangat minim dan dengan porsi latihan ala kadarnya, berangkat tanpa didampingi para perlatih dan atas biaya sendiri, Indonesia akhirnya gagal total pada babak Final Masters Super Series 2008 yang berlangsung di Likas Indoor Stadium, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Hasil pencapaian buruk yang diperlihatkan anak-anak Cipayung merupakan kado terburuk untuk pengurus PBSI yang baru terbentuk. Tuan rumah Malaysia berpesta pora dengan merebut 3 gelar juara, sementara Denmark dan Hongkong berbagi satu gelar.

Unggulan utama ganda campuran Nova Widianto/ Liliyana Natsir semakin tenggelam tanpa gelar selepas meraih medali perak Olimpiade Beijing 2008. Pada laga final, NoLyn tunduk pada pasangan Denmark Thomas Laybourn/ Kamila Rytterjuhl melalui pertarungan panjang melelahkan yang memakan waktu lebih dari satu jam. NoLyn kalah 19-21, 21-18, 20-22.

Di nomor ganda putri, Liliyana Natsir yang berpasangan dengan Vita Marissa juga gagal menahan perlawanan pasangan tuan rumah Wong Pei Tty/ Chin Eei Hui. ViLy kalah dua set langsung 15-21, 20-22.

Dengan hasil tersebut, tuan rumah Malaysia menggenapkan perolehan menjadi 3 gelar juara setelah sebelumnya Lee Cong Wei meraih gelar juara pada tunggal puta dengan menundukkan Peter Gade Hoeg dari Denmark dengan 21-8, 21, 16 dan ganda putra Koo Kien Keat/ Tan Boon Heong yang menundukkan ganda Korea Selatan Lee Yong Dae/ Jung Jae Sung juga dengan dua set langsung 21-18, 21-14.

Bagi Lee Cong Wei dan pasangan Koo Kin Keat/ Tan Boon Heong raihan gelar juara pada turnamen Masters Super Series 2008 merupakan keberhasilan pertama mereka setelah gagal di laga Olimpiade Beijing 2008 pada kategori Super Series.

Di tunggal putri pemain veteran asal Hongkong, Zhou Mi semakin mengukuhkan dirinya pada deretan pemain elit dunia setelah meraih gelar juara dan mendepak rekannya sendiri Wang Chen dengan 21-14, 21-18. (Arief Rachman)

www.bulutangkis.com

22 Desember 2008 Ditulis oleh muhamadabdulrosyid | Tulisanku | | Belum Ada Tanggapan

FRACTAL

With computers, we can generate beautiful art from complex numbers. These designs, some of which you can see on this page, are called fractals.

math expression

Fractals are produced using an iteration process. This is where we start with a number and then feed it into a formula. We get a result and feed this result back into the formula, getting another result. And so on and so on…

Fractals start with a complex number. Each complex number produced gives a value for each pixel on the screen. The higher the number of iterations, the better the quality of the image

math expression

math expression

Common fractals are based on the Julia Set and the Mandelbrot Set.

Julia Set

The Julia Set equation is:

Zn+1 = (Zn)2 + c

For the Julia Set, the value of c remains constant and the value of Zn changes.

math expression

Example of a Julia Set:

If we start with the complex number Z1= 0.5 + 0.6j, and let c = 0.3 and then feed this into the formula above, we have:

Z2 = (0.5 + 0.6j)2 + 0.3 = 0.19 + 0.6j

We now take this new answer and feed it back in:

Z3 = (0.19 + 0.6j)2 + 0.3 = -0.0239 + 0.228j

Continuing, we find that

Z4 = 0.24858721 − 0.0108984j and

Z5 = 0.3616768258 − 0.005418405698j

The Mandelbrot Set

math expression

The Mandelbrot Set (discovered accidentally by an IBM computer programmer of that name) is the same as the Julia Set, but the value of c is allowed to change.

math expression

The Fractal Fern

The “fractal fern” is generated completely by fractals. This is not a digital photograph – it is completely computer-generated.

Is There a Use for Any of This?

There certainly is.

math expression

A US company called Fractal Antenna Systems, Inc. makes antenna arrays that use fractal shapes to get superior performance characteristics, because they can be packed so close together.

This design ensures performance improvements in antennae used in wireless, microwave, RFID (Radio Frequency Identification) and telecommunications.

More details can be found at: http://www.spacedaily.com/news/antenna-02d.html

Aslinyadi sini

20 Desember 2008 Ditulis oleh muhamadabdulrosyid | Tulisanku | | Belum Ada Tanggapan

Pi

π = 3.141 592 653 5…

Pi has excited mathematicians for thousands of years. Why all the interest?

Pi arises in may fields of mathematics, for example:

Some Quick Highlights of the History of Pi

As far back as the 3rd century B.C.E. (Before Common Era), Archimedes found that pi was between

223/71 = 3.140 845 07…

and

22/7 = 3.142 857 143…

By the 5th century, the Chinese had the respectable value (correct to 6 decimal places):

355/113 = 3.141 592 92…

By the 17th century, the use of infinite series meant that we could get more and more accurate values of π, as long as we had plenty of time (or computing power) to calculate more decimal places. For example, Leibniz (of calculus fame) developed the following expansion for pi, but it wasn’t very good (see more at Finding Pi using Infinite Series):

pi

Why π?

The Greek letter pi (π) is used since it is the first letter of the Greek word for “perimeter”, meaning “distance around the outside”. If we have a circle with diameter 1 unit, then the perimeter will be π units.

π = 3.141 592 653 589 793 238 462 643 383 279 502 884 197 169…

Pi and Computers

One of the first things that computer engineers do when they are testing a new computer chip (or programming language or operating system) is to calculate the value of pi to check that everything is working correctly.

For example, just after World War II, the huge ENIAC computer managed to compute pi to just over 2,000 places.

The most recent value was achieved by the Japanese in 2002, with 1.2 trillion decimal places (that number’s got 11 zeroes after the 1.2…).

Pi and Art

How’s this for a great piece of pi art in downtown Seattle?

pi
Image source.

And you can’t beat this:

pi pie
Image source

This one is original:

pi solar system

π = 3.141 592 653 589 793 238 462 643 383 279 502 884 197 169…

aslinyadi sini

20 Desember 2008 Ditulis oleh muhamadabdulrosyid | Tulisanku | | Belum Ada Tanggapan

The Math Behind the Beauty

What has mathematics got to do with beauty? Actually, a lot. Physical attraction depends on ratio.

Our attraction to another person’s body increases if that body is symmetrical and in proportion. Likewise, if a face is in proportion, we are more likely to notice it and find it beautiful. Scientists believe that we perceive proportional bodies to be more healthy.


davinci's body

Leonardo da Vinci’s drawings of the human body emphasised its proportion. The ratio of the following distances is the Golden Ratio:

(foot to navel) : (navel to head)

Similarly, buildings are more attractive if the proportions used follow the Golden Ratio.

Golden Ratio

The Golden Ratio (or “Golden Section”) is based on Fibonacci Numbers, where every number in the sequence (after the second) is the sum of the previous 2 numbers:

1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, …

We will see (below) how the Fibonnaci Numbers lead to the Golden Ratio:

Φ = 1.618 033 …

Physical Beauty

Why do many people feel that Jessica Simpson is beautiful?

mask

This mask of the human face is based on the Golden Ratio. The proportions of the length of the nose, the position of the eyes and the length of the chin, all conform to some aspect of the Golden Ratio.

jessica masked

When placed over the photo of Jessica Simpson, we see there is a good fit (that is, the proportions of her face fit the geometrically “nice” proportions of the mask, based on the Golden Ratio).

Her beauty is mathematical!

You can play with this yourself in the following interactive.

Flash Interactive

In this Flash activity, you can check out the “mathematical beauty” (or not) of some famous people.

Choose a mask, depending on whether the person is smiling or not, and line up the mask with the photo, using the sliders.

You can change the colour of the mask for better viewing.

var so = new SWFObject(“beauty.swf”, “mymovie”, “550″, “420″, “7″, “#ffffff”);
so.write(“flashcontent”);

This interactive is based on the work of Dr. Stephen Marquardt (external site).

Disclaimer: Of course, inner beauty is more important than external beauty…

Back to the Mathematics…

Let’s look at the ratio of each number in the Fibonacci sequence to the one before it:

1/1 = 1

2/1 = 2

3/2 = 1.5

5/3 = 1.666…

8/5 = 1.6

13/8 = 1.625

21/13 = 1.61538…

34/21 = 1.61905…

55/34 = 1.61764…

89/55 = 1.61861…

If we keep going, we produce an interesting number which mathematicians call “phi” (Golden Ratio or Golden Section):

Φ = 1.618 033 988 7…

This ratio was used by architects and artists throughout history to produce objects of great beauty (like Michelangelo’s “David” and the Greek temples.)

parthenon
The Parthenon in Greece. The ratio of the distances indicated is the Golden Ratio.

Phi (Φ) is like pi (π) in the sense that it is an irrational number. There is no equivalent fraction for Φ and its decimal keeps going and never stops.

sunflower
Sunflower (Image source)

20 Desember 2008 Ditulis oleh muhamadabdulrosyid | Tulisanku | | Belum Ada Tanggapan